Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI <p><strong>Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI)</strong> is published by Faculty of Dentistry, Universitas Prof Dr Moestopo (B), Jakarta,Indonesia. This journal is a scientific publication consists of research and case report manuscript that are useful and interesting to read. The purpose of this journal is to gain insight into the latest informations in science and technology dentistry.</p><p>The manuscripts presented Conservative Denstistry, Periodontics, Orthodontics, Prostodontics, Pedodontics, Oral Medicine, Oral Surgery, Dental Public Health, and supporting fields in dentistry such as Oral and Maxillofacial Radiology, Oral Biology, Dental Material Science and Technology.</p><p>This journal is published periodically twice a year (in May and November). The submission process opens throughout the year. All submitted manuscript will be screened with double-blind peer review process from two reviewers and editorial decision before the manuscript was accepted to be published.</p><p>Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi is <a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/4817" target="_blank">SINTA 5 accredited</a> journal (Surat Keputusan KEMENDIKBUD RISTEK Nomor <strong>SK No. 79/E/KPT/2023</strong>, dated 11 May 2023).</p> Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) en-US Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) 1693-3079 Licensed under a <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/">Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License</a> PENGARUH HILANGNYA KONTAK OKLUSI TERHADAP PROPORSI TINGGI WAJAH PADA ANAK DENGAN SEVERE EARLY CHILDHOOD CARIES https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/3227 <p><strong>Latar belakang: </strong><em>Severe Early Childhood Caries </em>merupakan salah satu penyebab kerusakan mahkota gigi desidui maupun <em>premature loss</em> gigi desidui yang dapat mengakibatkan berkurangnya dimensi vertikal wajah. <strong>Tujuan</strong>: untuk menganalisa pengaruh hilangnya kontak oklusi terhadap proporsi tinggi wajah pada anak usia 3-5 tahun dengan <em>Severe Early Childhood Caries. </em><strong>Metode penelitian: </strong>Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian adalah 121 anak usia 3-5 tahun dari 5 Posyandu dan 5 PAUD di Kecamatan Pulo Gadung. Tehnik pengambilan sampel berdasarkan sampel minimal dari penelitian sebelumnya. Klasifikasi kehilangan kontak oklusi berdasarkan <em>indeks Eighner</em> yang dimodifikasi. Tinggi wajah diukur berdasarkan metode <em>Krull</em> menggunakan jangka sorong. Analisis data menggunakan analisis <em>Kruskal-Wallis </em>dilanjutkan dengan uji <em>Mann-Whitney. </em><strong>Hasil penelitian: </strong>Hasil uji <em>Kruskal-Wallis</em> berdasarkan data hasil penelitian pada subyek usia 3-5 tahun menunjukkan perbedaan proporsi tinggi wajah atas (p˂0.05) dan proporsi tinggi wajah bawah (p˂0.05) yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi tinggi wajah bawah paling pendek pada kelompok kehilangan kontak oklusi zona anterior serta posterior kanan dan kiri (31.28±0.17%). <strong>Kesimpulan: </strong>1.<strong> </strong>Kehilangan kontak oklusi pada anak usia 3-5 tahun dengan <em>S-ECC </em>akan menyebabkan perbedaan proporsi tinggi wajah atas dan bawah. 2. Kehilangan kontak oklusi pada anak usia 3-5 tahun dengan <em>S-ECC </em>pada zona anterior serta posterior kanan dan kiri menyebabkan proporsi tinggi wajah bawah lebih pendek dibanding kelompok kontrol.</p> Erni Sudarsini Putri Kusuma Wardhani Al Supartinah Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi 2025-06-17 2025-06-17 21 1 1 9 10.32509/jitekgi.v21i1.3227 HUBUNGAN KONSUMSI JAJANAN DAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI TERHADAP KARIES GIGI PADA SISWA KELAS 5-6 SD https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/3900 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Karies adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai pada kerusakan jaringan, mulai dari permukaan gigi email, dentin dan meluas ke pulpa. Makanan jajanan salah satu makanan yang dikenal luas di masyarakat, terutama dikalangan anak-anak sekolah. Pola makan seimbang adalah suatu cara mengatur jumlah dan jenis makanan dalam bentuk makanan sehari- hari yang terdapat gizi seimbang menjadi zat pembangun serta zat pengatur pada tubuh. Menyikat gigi setelah makan dapat membersihkan sisa makanan yang menempel pada permukaan gigi sehingga dapat mencegah terbentuknya plak. <strong>Bahan dan metode Penelitian: </strong>Desain penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Uji statistic yang digunakan adalah uji chi-Square. <strong>Pembahasan: </strong>Mengetahui hubungan konsumsi jajanan dan kebiasaan menyikat gigi terhadap karies gigi pada siswa kelas 5-6 SD. <strong>Hasil Penelitian: </strong>Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan nilai <em>p-value </em>Pada konsumsi jajanan sebesar 0,924 yang lebih besar daripada 0,05 (<em>p-value</em>&gt;0,05) yang menunjukkan tidak terdapat hubungan konsumsi jajanan terhadap karies gigi, tetapi pada kebiasaan menyikat gigi didapatkan nilai p-value sebesar 0,000 yang lebih kecil dari pada 0,05 (p-value&lt;0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi terhadap karies gigi. <strong>Kesimpulan: </strong>Pada penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan konsumsi jajanan terhadap karies gigi, namun terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi terhadap karies gigi pada siswa kelas 5-6 SDI Kampus Universitas Hasanuddin 1.</p> Muhammad jayadi abdi Ilmianti Ilmianti Fahira Ulfa Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi 2025-06-17 2025-06-17 21 1 10 20 10.32509/jitekgi.v21i1.3900 GAMBARAN POSISI GIGI IMPAKSI MOLAR KETIGA DENGAN KANALIS MANDIBULA BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/4483 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Gigi molar ketiga merupakan gigi yang paling sering mengalami impaksi. Perawatan gigi impaksi dapat dilakukan dengan odontektomi. Odontektomi dapat mengakibatkan komplikasi seperti cedera saraf (2,6%-30,9%) akibat kurangnya pengetahuan terhadap hubungan akar gigi molar ketiga dengan kanalis mandibula. Mengetahui posisi gigi impaksi molar ketiga melalui radiografi panoramik sangat penting untuk mengurangi komplikasi yang akan terjadi untuk mengetahui hubungan antara gigi impaksi dengan kanalis mandibula menurut Rood dan Shehab. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran posisi gigi impaksi molar ketiga dengan kanalis mandibula berdasarkan usia dan jenis kelamin. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain penelitian <em>cross sectional</em> menggunakan teknik total sampling. Sampel dari penelitian ini adalah seluruh data foto radiografi panoramik RSKGM-P UPDM(B) dari bulan Juli 2023 hingga Januari 2024 sebanyak 387 gigi dari 206 foto radiografi panoramik digital. <strong>Hasil: </strong>Dari 387 gigi impaksi molar ketiga rahang bawah, sebanyak 310 gigi berelasi dengan kanalis mandibula. Pada perempuan sebanyak 239 gigi (81,8%) dan pada laki-laki sebanyak 71 gigi (74,4%). Relasi paling banyak adalah relasi A atau akar menggelap sebanyak 180 gigi (46,5%). <strong>Kesimpulan: </strong>Prevalensi gigi impaksi yang berelasi dengan kanalis mandibula adalah sebesar 80,1% dan relasi yang paling sering ditemukan adalah akar menggelap (46,5%). Tingkat kejadian berdasarkan jenis kelamin lebih banyak pada perempuan dengan relasi akar menggelap (75%) dan tingkat kejadian berdasarkan usia paling banyak terjadi pada usia 24 tahun dengan relasi akar menggelap (36,1%).</p> Novi Kurniati Nabila Athayazahra Putri Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi 2025-06-17 2025-06-17 21 1 21 32 10.32509/jitekgi.v21i1.4483 EFEK PERENDAMAN EKSTRAK KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANII) TERHADAP WARNA PERMUKAAN RESIN AKRILIK HEAT-CURED: STUDI EKSPERIMENTAL https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/4988 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Resin akrilik merupakan bahan basis gigi tiruan yang sampai saat ini masih digunakan dalam bidang kedokteran gigi karena memiliki kelebihan tidak mengiritasi, tidak larut dan estetik baik. Kekurangan dari resin akrilik yaitu perubahan warna. Kayu manis merupakan bahan alami yang dapat digunakan untuk pengobatan, bumbu masakan dan minuman. Kayu manis ini memiliki kandungan tanin dan memiliki pigmen warna.<strong> </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman resin akrilik <em>heat cured</em> dalam ekstrak kayu manis terhadap perubahan warna. <strong>Bahan dan Metode: </strong>Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan metode <em>pre-test and post-test control group design. </em>Perlakuan tersebut diberikan untuk melihat perubahan warna pada permukaan resin akrilik, dengan total 27 spesimen berbentuk koin berukuran 15 x 2 mm, yang dibagi menjadi 3 kelompok perendaman selama 3, 5, dan 7 hari. <strong>Hasil dan Pembahasan: </strong>Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbedaan perubahan warna <em>hue</em> yang signifikan (p=0,004) yang direndam dalam larutan ekstrak kayu manis selama 3, 5, dan 7 hari. Perendaman dalam larutan kayu manis selama 3, 5, dan 7 hari menunjukan penurunan pH, menyebabkan zat asam (H<sup>+</sup>) yang berikatan dengan CH<sub>3</sub>O<sup>-</sup>, terlepas dari gugus ester sehinggga mengakibatkan kekasaran permukaan resin akrilik <em>heat-cured</em> meningkat dan terjadinya perubahan warna karena peningkatan absorpsi zat tanin. <strong>Kesimpulan:</strong> Konsumsi kayu manis yang terus menerus dapat menimbulkan perubahan warna pada permukaan gigi tiruan resin akrilik <em>heat-cured</em>. Perubahan warna resin akrilik ini disebabkan oleh zat warna tanin yang diserap oleh resin akrilik yang bersifat asam melalui porositas dan menyebkan perubahan warna (kecoklatan).</p> Irsan Ibrahim Mirna Febriani Tuti Alawiyah Fuji Nurhasanah Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) 2025-06-17 2025-06-17 21 1 33 45 10.32509/jitekgi.v21i1.4988 PERBANDINGAN ANTARA TEKNIK TELL-SHOW-DO DAN TELL-PLAY-DO DALAM PENURUNAN KECEMASAN DENTAL https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/5015 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Kecemasan dental adalah salah satu alasan utama anak menghindari kunjungan ke dokter gigi. Gejala fisik yang muncul meliputi mual, muntah, peningkatan tekanan darah, detak jantung cepat dan berdebar, serta ketakutan berlebihan terhadap prosedur perawatan gigi yang tidak dapat dijelaskan. Pengelolaan kecemasan dental merupakan faktor penting dalam mencapai hasil perawatan optimal pada pasien anak. Untuk mengatasi kecemasan ini, <em>American Academy of Pediatric Dentistry </em>(AAPD) merekomendasikan pendekatan non-farmakologis. Teknik manajemen perilaku yang umum digunakan adalah <em>Tell-Show-Do </em>(TSD), yang kemudian dimodifikasi menjadi <em>Tell-Play-Do </em>(TPD). Teknik ini lebih berhasil dalam mengurangi kecemasan anak selama perawatan gigi. Tujuan dari penulisan ini untuk menjelaskan perbandingan teknik TSD dan TPD dalam mengurangi tingkat kecemasan dental pada anak TK dan SD Nusa Melati. <strong>Bahan dan</strong> <strong>Metode: </strong>Jenis penelitian observasional analitik dengan desain <em>Cross Sectional</em>. Teknik pengambilan sampel dengan <em>Purposive Sampling </em>di klinik praktik mandiri dokter gigi. Subjek terdiri dari 30 anak TK dan SD diamati oleh peneliti sambil mengisi lembaran <em>Facial Image Scale</em>, kemudian dilakukan demo dengan kriteria masing-masing kelompok TSD dan TPD yang setelah itu akan dilakukan pemeriksaan intraoral dan pemberian stiker kembali sambil diamati oleh peneliti untuk dilihat hasil perbandingan penurunan kecemasannya. <strong>Hasil dan Pembahasan: </strong>Hasil uji perbandingan antara TSD dan TPD menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam penurunan kecemasan dental, dengan nilai <em>p-value</em> 0,389 (p&gt;0,05). Teknik TSD dapat juga mengurangi kecemasan anak selama kunjungan gigi seperti dengan teknik TSD. <strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat penurunan signifikan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan teknik TSD maupun TPD tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara teknik TSD dan TPD terhadap penurunan kecemasan dental.</p> Ika Anisyah Verena Valenzka Witriana Latifa Wibisono Rini Triani Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) 2025-06-17 2025-06-17 21 1 46 57 10.32509/jitekgi.v21i1.5015 FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI PADA STATUS KARIES GIGI DI KELOMPOK MASYARAKAT PULAU SERAM, MALUKU https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/5016 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang multifaktorial dan jika tidak ditangani dengan baik akan mempengaruhi banyak aspek dalam kualitas hidup suatu masyarakat, oleh karenanya penting untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor yang berkontribusi terhadap status karies gigi di masyarakat secara spesifik, termasuk di wilayah timur Indonesia yaitu Masyarakat Pulau Seram, Maluku.<strong> Bahan dan Metode Penelitian:</strong> Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif berbasis data survei kesehatan gigi dan mulut, dengan desain <em>cross sectional study</em>. Sampel penelitian diambil dari populasi dengan teknik sampling yaitu <em>total sampling, </em>dilakukan dengan mendata keseluruhan masyarakat yang hadir dan bersedia mengikuti penelitian.<strong> Hasil Penelitian: </strong>Total responden berjumlah 1.589 orang, berjenis kelamin terbanyak perempuan (58%), tingkat pendidikan terbanyak belum tamat SD (51%), dan pekerjaan terbanyak belum/tidak bekerja (68%). Status karies gigi menunjukkan 73% <em>free caries, </em>dengan skor indeks dmf-t=1,26 dan DMF-T=2,61, dengan faktor yang berkontribusi terhadap status karies gigi tersebut adalah faktor kebiasaan menyikat gigi yang baik (frekuensi menyikat gigi <span style="text-decoration: underline;">&gt;</span>2x sehari sebesar 94,7% dan 99,4% responden menyikat gigi menggunakan pasta gigi).<strong> Pembahasan: </strong>Status karies gigi responden cukup baik, hal ini dimungkinkan oleh faktor habit menyikat gigi yang sudah baik. Kebiasaan menyikat gigi sebagai salah satu tindakan pencegahan termudah dan termurah yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masing-masing individu, sehingga dapat menurunkan potensi pembentukan karies gigi. <strong>Kesimpulan: </strong>Rata-rata pengalaman karies gigi responden termasuk kategori rendah dan sangat rendah, yang mengartikan bahwa status karies gigi pada populasi ini cukup baik dengan faktor yang berkontribusi pada status karies gigi tersebut adalah faktor kebiasaan menyikat gigi yang baik.</p> Annisa Septalita Fauziah M. Asim Irma Binarti Setia Milatia Edia Zulfa Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) 2025-06-17 2025-06-17 21 1 58 67 10.32509/jitekgi.v21i1.5016 DAYA HAMBAT LARUTAN IRIGASI KUNYIT PUTIH (Curcuma Zedoaria) TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/5024 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Perawatan saluran akar bertujuan untuk menghilangkan bakteri dan mencegah terjadinya infeksi ulang. Namun, perawatan saluran akar bisa gagal karena bakteri di dalam akar, yaitu <em>Enterococcus faecalis</em>. Bakteri ini dapat dihilangkan dengan larutan NaOCl karena memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi, tetapi memiliki kekurangan yaitu sitotoksik dengan aroma yang menyengat. Kunyit putih merupakan rempah-rempah dan sering digunakan sebagai obat tradisional. Ekstrak kunyit putih berpotensi menjadi alternatif bahan irigasi saluran akar karena mengandung bahan aktif yang bersifat antibakteri. <strong>Bahan dan Metode</strong><strong> Penelitian:</strong> Penelitian dilakukan di 4 tempat berbeda yaitu laboratorium BPSI untuk pembuatan esktrak sampel kunyit putih, laboratorium kimia UI dan Yarsi untuk uji fitokimia, dan laboratorium bioteknologi PUSPIPTEK untuk uji daya hambat bakteri Jenis penelitian eksperimental laboratorium<em> </em>yang menggunakan metode sumur/ <em>zone well. </em>Sampel berjumlah 28 sampel berupa biakan bakteri <em>Enterococcus faecalis </em>ATCC 29212 dalam media <em>Mueller Hinton Agar</em> (<em>MHA</em>). Empat kelompok perlakuan adalah ekstrak kunyit putih 80%, 100%, NaOCl 2,5% dan akuades. <strong>Hasil Penelitian</strong>:<strong> </strong>Besar rata-rata daya hambat ekstrak kunyit putih (<em>Curcuma zedoaria</em>) konsentrasi 80% dan 100% adalah 1,69 mm dan 0,2686 mm, sedangkan pada NaOCl 2,5% sebesar 2,13 mm. Uji <em>ANOVA</em> menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan <em>p</em>=0,000 (p&lt;0,05). <strong>Pembahasan:</strong> Ekstrak <em>Curcuma zedoaria</em><strong> </strong>80%<strong> </strong>memiliki daya hambat terhadap <em>E. faecalis</em> yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi 100%. Makin tinggi konsentrasi tidak membuat daya hambatnya makin tinggi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti difusi pada media agar dan tidak stabilnya ekstrak. <strong>Kesimpulan: </strong>Ekstrak kunyit putih memiliki daya hambat yang rendah terhadap bakteri <em>Enterococcus faecalis </em>ATCC 29212 dibandingkan NaOCl 2,5%.</p> Stanny Linda Paath Mirza Aryanto Arya Agung Permana Pongtiku Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) 2025-06-17 2025-06-17 21 1 68 80 10.32509/jitekgi.v21i1.5024 PENGARUH STERILISASI TERHADAP KEKUATAN TARIK MEMBRAN NANOKOMPOSIT DISINTESIS DARI ESKTRAK Cymbopogon citratus (Kitosan Agen Penstabil) https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/5079 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Membran nanokomposit merupakan gabungan antara beberapa material dengan tujuan untuk membentuk suatu material baru yang kaya akan manfaat. Material membran nanokomposit terdiri dari dua atau lebih bahan yang digabungkan menjadi satu, yang terdiri dari <em>filler </em>dan agen penstabil. Filler yang digunakan adalah AgNO<sub>3 </sub>dan agen penstabil yang digunakan adalah kitosan kumbang tanduk (<em>Xylotrupes gideon)</em>. Membran nanokomposit yang diperuntukkan sebagai media penyembuh luka wajib bersifat tidak beracun, tidak menimbulkan alergi dan terbuat dari bahan biomaterial yang bersifat anti bakteri dan antiinflamasi.<strong> </strong>Nanokomposit yang berasal dari turunan kitosan kumbang tanduk telah menarik perhatian yang besar, terutama karena memiliki sifat fisik dan kimia yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh sterilisasi terhadap sifat mekanik dari membran nanokomposit yang akan digunakan sebagai antiseptik dalam rongga mulut. <strong>Bahan dan</strong> M<strong>etode:</strong> Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan membran nanokomposit yang diuji kekuatan tarik, dan perpanjangannya, serta kesterilitasan membran. Membran nanokomposit dipotong sesuai standar, dan dibagi menjadi dua kelompok nilai sterilisasi yaitu 0 kGy dan 25 kGy. <strong>Hasil: </strong>Hasil uji analisis statistik <em>One-way ANOVA</em> menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari <em>tensile strength, stress at break, </em>dan <em>elongation </em>adalah 0,187; 0,187; dan 0,992 secara berurutan sehigga dapat dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan antar spesimen dikarenakan p&gt;0,05. <strong>Pembahasan:</strong> Kekuatan tarik merupakan salah satu parameter utama untuk menilai kelayakan material sebagai membran, khususnya dalam aplikasi biomedis seperti pembalut luka atau media antiseptik mulut. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara spesimen yang disterilisasi dan tidak disterilisasi (p &gt; 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa proses sterilisasi dengan sinar gamma 25 kGy tidak secara substansial mempengaruhi integritas mekanik dari membran yang diuji. <strong>Kesimpulan:</strong> Rata rata kekuatan tarik yang dilakukan pada membran nanokomposit tidak mengalami perubahan signifikan setelah dilakukan proses sterilisasi dengan radiasi sinar gamma.</p> Florencia Livia Kurniawan Komariah Komariah Rochelle Gita Ozora Farah Nurlidar Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) 2025-06-17 2025-06-17 21 1 81 93 10.32509/jitekgi.v21i1.5079 PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI KLORHEKSIDIN 2% DAN ESKTRAK GAMBIR TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ENTEROCOCCUS FAECALIS ATCC 29212 https://ejournal.moestopo.ac.id/index.php/JITEKGI/article/view/5211 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Kegagalan<strong> </strong>perawatan endodontik disebabkan oleh persistensi bakteri di dalam saluran akar. <em>Enterococcus faecalis </em>adalah bakteri paling dominan penyebab utama kasus reinfeksi saluran akar. Ekstrak gambir (<em>Uncaria gambir Roxb</em>) memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung senyawa <em>flavonoid</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri klorheksidin 2% dan ekstrak gambir (<em>Uncaria gambir Roxb.</em>) terhadap pertumbuhan bakteri <em>Enterococcus faecalis </em>ATCC 29212. <strong>Bahan dan </strong><strong>Metode</strong><strong>: </strong>Delapan belas sampel yang terbagi menjadi 6 kelompok, yaitu klorheksidin 2% dan ekstrak gambir dengan konsentrasi 1%,2%,3%,4%,5%, dilakukan pengukuran aktivitas antibakteri terhadap bakteri <em>Enterococcus faecalis </em>dengan mengukur diameter terluar zona bening di sekitar kertas cakram. <strong>Hasil Penelitian: </strong>Klorheksidin 2%<strong> </strong>dan<strong> </strong>Ekstrak gambir (<em>Uncaria</em><em> gambir Roxb</em>) memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri <em>Enterococcus faecalis</em>. Klorheksidin 2% memiliki aktivitas antibakteri 15,5 mm dan ekstrak gambir yang telah menjadi fraksi n-heksana dengan konsentrasi terbesar, yaitu 5% mempunyai aktivitas antibakteri 9,4 mm, konsentrasi 1% aktivitas antibakterinya 7,8 mm, konsentrasi 2% dengan aktivitas antibakterinya 8,4 mm, konsentrasi 3% dengan aktivitas antibakterinya 8,5 mm, dan konsentrasi 4% dengan aktivitas antibakterinya 8,6 mm, tetapi perbandingan aktivitas antibakteri klorheksidin 2% dan ekstrak gambir (<em>Uncaria</em><em> gambir Roxb</em>) terhadap<em> </em>bakteri <em>Enterococcus faecalis</em> adalah tidak signifikan (p&gt;0.05). <strong>Pembahasan:</strong> Semakin tinggi konsentrasi ekstrak gambir yang digunakan semakin besar daya hambat bakteri yang dihasilkan. Ekstrak gambir dapat menghambat pertumbuhan bakteri <em>Enterococcus faecalis </em>ATCC 29212. Hal ini ditunjukkan dengan adanya zona hambat yang terbentuk <strong>Kesimpulan: </strong>Klorheksidin 2% memiliki aktivitas antibakteri lebih tinggi dari ekstrak gambir (<em>Uncaria gambir Roxb</em>) terhadap pertumbuhan bakteri <em>Enterococcus faecalis </em>ATCC 29212.</p> Sari Dewiyani Stanny Linda Paath Shahnaz Alysia Copyright (c) 2025 Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) 2025-06-17 2025-06-17 21 1 94 104 10.32509/jitekgi.v21i1.5211